DI LUAR burung berkicau menyenandungkan lagu kematian. Nada-nada minor mencakar suasana yang kian kelam. Matahari bersinar, memancarkan cahaya hitam ke dalam satu sudut kamar. Kamar yang pengap. Di sudut, di bawah tembok muram, tergolek seonggok daging yang membeku.
Ia mati. Badannya membeku kebiruan. Busa-busa keluar dari mulut, melukis wajah hitam muram. Ia tergolek di atas kasur tipis penuh debu. Sudah tiga hari ia tertidur lelap tanpa mimpi. Mimpi yang biasanya mendatanginya dan membuatnya berteriak. Sudah tiga hari pula, tak ada kabar darinya. Kabar yang selalu berurai tentang kepahitan.
Di samping kanannya tergeletak bungkus obat-obat penenang, dimulai dari Calmlet, Xanax, hingga Valium.. Ternyata ia meminum semuanya dalam satu hari. Di samping kirinya, tergeletak sebuah kitab Injil. Apakah ini juga pertanda ia membacanya sebelum ia meneguk pil demi pil yang sekarang membuatnya tergolek lemah?
Ia telah mati. Sekarang ia sudah pergi menghilang. Ia sudah benar-benar terperosok ke dalam jurang yang curam. Bukan saja terperosok dan tersesat, namun meresap dalam tanah.
Sudah tak ada lagi jiwa garang namun rapuh. Kilat kulit hitam yang terpancar dari sela-sela gerak tubuhnya pun mati tersambat kilat langit yang mahabesar. Lumpur muntahan gunung berapi yang tak pernah berhenti menuruni jurang dan sempat tersesat, kini ditelan ganas oleh seonggok tanah merah.
Masihkah ia bertanya siapa pembuat skenario kematian ini sekarang?
"JIKALAU Tuhan memang ada, aku ingin bertemu denganNya nanti ketika aku mati", ucap Ladhu. Tepat sebulan yang lalu sebelum ia tergolek lemah di kamarnya. Ladhu tersenyum sinis sambil menyalakan rokoknya yang sedari tadi hanya diputarnya.
"Kalau kau sudah bertemu denganNya, datangi aku. Ceritakan padaku seperti apa dia", jawab Atari yang dibalas dengan anggukan kepala Ladhu sambil menghembuskan asap rokok pertamanya. Lantas mereka tersenyum pada langit.
SEORANG wanita dan lelaki paruh baya menangis terisak. Di hadapannya, terdapat sebuah peti yang di dalamnya sedang tertidur seorang pria muda yang telah didandani. Mereka terlihat tidak kuat menahan rasa sedih atas kepergian putra sulungnya. Berbeda dengan seorang pria muda di sampingnya, yang terlihat tegar mengetahui kalau ia sudah tak bisa lagi memukul kahon untuk mengiringi sang kakak yang senantiasa memetik senar-senar gitar sambil meniupkan harmonika yang selalu menempel di dekat mulutnya.
Di tengah-tengah kerumunan orang-orang, Atari dan Rimba berdiri bersampingan. Hari ini mereka khusus datang untuk menghadiri pemakaman seorang teman yang begitu mereka sayangi. Mereka datang tanpa tangis.
Selamat jalan, Ladhu. Kau harus ingat janjimu padaku. Jika kau bertemu dengan Tuhan, ketuklah pintu jendela kamarku di malam hari seperti biasa yang kau lakukan, ceritakan padaku seperti apa dia. Atari berbisik dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar