Sabtu, 10 Maret 2012

#2

ANGIN malam menemani mereka yang kelelahan. Langit tanpa bintang menemani mereka yang mencari. Mencari bintang penerang raga yang sempat limpung lupa arah tersapu angin topan di Gurun Sahara. Ditemani binatang-binatang liar seperti kalajengking dan ular yang membuat pencarian semakin liar. Dan mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Seperti danau kuno yang konon katanya tersembunyi di bawah padang pasir.

Puntung-puntung rokok dengan setia menjadi pendengar perbincangan mereka, para pemuda-pemudi yang mencari. Mungkin puntung-puntung rokok pun sebenarnya ingin ikut mencari, mencari tempat sampah, untuk akhirnya dibuang, dan ia mati.

"Kalian tahu, di sinilah tempat aku selalu mengeluarkan seluruh amarahku pada Tuhan. Aku selalu marah pada Tuhan di sini. Aku bebas berteriak, mencaci maki. Hanya untuk Tuhan!", teriak Ladhu lantang.

"Kenapa kamu harus marah-marah pada Tuhan?" tanya Rimba.

"Ya buktinya dia selalu memberiku kepedihan demi kepedihan. Kamu tahu? Aku tak punya kenangan hidup yang kata orang itu manis. Kenanganku selalu pahit! Bohong jika orang-orang berkata kalau Tuhan menyayangi hambaNya. Inikah yang Ia lakukan jika Ia sayang? Dan aku memilih untuk mengumpatNya."

Puntung rokok, segelas teh, satu botol ciu menjadi saksi perkataannya. "Apa makna hidup untukmu?", Rimba bertanya kembali. Rimba, sama seperti yang lainnya, dia juga mencari. Rimba si pengembara. Hutan ke hutan dilewatinya tanpa rasa takut. Tengah malam pun ia lalui dengan berdiam diri di pohon-pohon rindang yang menancapkan dirinya di hutan rimba. Dulu, dia seorang Katolik, karena berbagai alasan, dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Dan saat ini, kembali lagi ia memilih. Sebuah aliran kepercayaan kuno. Sebuah agama bumi di tatar Sunda. Di sini mereka menyebutnya, Sunda Wiwitan.

"Aku tak tahu, karena aku tak pernah meminta untuk dilahirkan. Kalaupun dilahirkan, kurasa aku dilahirkan oleh orang yang salah. Selain itu juga, aku tak pernah meminta untuk diberikan umur panjang sampai umurku yang ke-26 ini."

"Tidak akan ada yang pernah meminta untuk dilahirkan. Janin bayi yang terbentuk dari hubungan-hubungan yang tidak bertanggungjawab pun tak pernah meminta diri untuk dilahirkan, walaupun pada akhirnya dia benar-benar tidak dilahirkan, tapi dia dibunuh sebelum ia diberikan jiwa," tepas Ara, si ilalang yang sulit untuk berdiri kokoh. Sampai sekarang ia masih berkata kepada setiap orang bahwa Islam agamanya. Walaupun sebenarnya ia sendiri pun masih terus bertanya-tanya apa makna dari keyakinan. Ia tahu, namun ia tak mengerti apa yang harus dilakukannya. "Beruntunglah mereka para janin yang dibunuh itu," gumam Ladhu.

"Ada pertemuan, ada juga perpisahan. Ada tombol on, ada juga tombol off. Begitu juga, ada kehidupan, ada kematian. Di sini kita berbincang-bincang untuk menuju sebuah kematian yang akan datang entah kapan. Dan menuju mati, kita akan bertemu dengan jalan yang entah jalan yang berkelok-kelok, jalan yang berkerikil, jalan yang penuh dengan pecahan kaca, atau juga jalan yang lurus. Dan aku menamakannya, proses. Aku percaya, hidup adalah untuk mati."

Di balik perbincangan itu, sayup-sayup terdengar sebuah lagu dari kamar yang pintunya selalu tertutup. Terdengar seseorang bernyanyi di sana.
Hei.. Ajari Kami!
Membagi-mengabdi-menghormati kembali
Percaya-kepada apa-yang telah hilang dan mati.

Kamis, 08 Maret 2012

#1

DI LUAR burung berkicau menyenandungkan lagu kematian. Nada-nada minor mencakar suasana yang kian kelam. Matahari bersinar, memancarkan cahaya hitam ke dalam satu sudut kamar. Kamar yang pengap. Di sudut, di bawah tembok muram, tergolek seonggok daging yang membeku.

Ia mati. Badannya membeku kebiruan. Busa-busa keluar dari mulut, melukis wajah hitam muram. Ia tergolek di atas kasur tipis penuh debu. Sudah tiga hari ia tertidur lelap tanpa mimpi. Mimpi yang biasanya mendatanginya dan membuatnya berteriak. Sudah tiga hari pula, tak ada kabar darinya. Kabar yang selalu berurai tentang kepahitan.

Di samping kanannya tergeletak bungkus obat-obat penenang, dimulai dari Calmlet, Xanax, hingga Valium.. Ternyata ia meminum semuanya dalam satu hari. Di samping kirinya, tergeletak sebuah kitab Injil. Apakah ini juga pertanda ia membacanya sebelum ia meneguk pil demi pil yang sekarang membuatnya tergolek lemah?

Ia telah mati. Sekarang ia sudah pergi menghilang. Ia sudah benar-benar terperosok ke dalam jurang yang curam. Bukan saja terperosok dan tersesat, namun meresap dalam tanah.

Sudah tak ada lagi jiwa garang namun rapuh. Kilat kulit hitam yang terpancar dari sela-sela gerak tubuhnya pun mati tersambat kilat langit yang mahabesar. Lumpur muntahan gunung berapi yang tak pernah berhenti menuruni jurang dan sempat tersesat, kini ditelan ganas oleh seonggok tanah merah.

Masihkah ia bertanya siapa pembuat skenario kematian ini sekarang?



"JIKALAU Tuhan memang ada, aku ingin bertemu denganNya nanti ketika aku mati", ucap Ladhu. Tepat sebulan yang lalu sebelum ia tergolek lemah di kamarnya. Ladhu tersenyum sinis sambil menyalakan rokoknya yang sedari tadi hanya diputarnya.

"Kalau kau sudah bertemu denganNya, datangi aku. Ceritakan padaku seperti apa dia", jawab Atari yang dibalas dengan anggukan kepala Ladhu sambil menghembuskan asap rokok pertamanya. Lantas mereka tersenyum pada langit.



SEORANG wanita dan lelaki paruh baya menangis terisak. Di hadapannya, terdapat sebuah peti yang di dalamnya sedang tertidur seorang pria muda yang telah didandani. Mereka terlihat tidak kuat menahan rasa sedih atas kepergian putra sulungnya. Berbeda dengan seorang pria muda di sampingnya, yang terlihat tegar mengetahui kalau ia sudah tak bisa lagi memukul kahon untuk mengiringi sang kakak yang senantiasa memetik senar-senar gitar sambil meniupkan harmonika yang selalu menempel di dekat mulutnya.

Di tengah-tengah kerumunan orang-orang, Atari dan Rimba berdiri bersampingan. Hari ini mereka khusus datang untuk menghadiri pemakaman seorang teman yang begitu mereka sayangi. Mereka datang tanpa tangis.

Selamat jalan, Ladhu. Kau harus ingat janjimu padaku. Jika kau bertemu dengan Tuhan, ketuklah pintu jendela kamarku di malam hari seperti biasa yang kau lakukan, ceritakan padaku seperti apa dia. Atari berbisik dalam hati.